• Sandiwara Langit

    Penulis : Abu Umar Basyier Harga Rpl 30.000,- Harga Bayt Aisyah Rp. 27.000 Kisah seorang anak manusia bernama Rizqaan. Pemuda shalih yang ingin segera menikah karena merasa sudah tidak mampu lagi untuk menjaga gejolak syahwatnya yang sudah begitu menggelora. Pernikahan adalah langkah terakhir yang ia pilih setelah beragam cara seperti puasa Dawud (puasa sehari dan berbuka sehari) sudah tidak mampu lagi menolongnya untuk meredam gejolak tersebut. Calon istri sudah ia dapatkan. Seorang pemudi sholihah bernama Halimah. Akan tetapi....

  • KAFTAN RATU

    Lihat model lainnya

  • Langit Mekah Berkabut Merah

    Pengarang : Geidurrahman Il-Mishry Ukuran : 13 x 20, 350 halaman Harga SC : Rp 59,900 Deskripsi: Ayahnya seorang kiyai desa, meninggal, akibat menjadi korban salah sasaran warga, di tengah malam gelap gulita. Sejak saat itu ia putus mondok dari sebuah Pesantren. Hari-harinya yang biasa ia isi dengan mengaji berganti dengan tumpukan baju dan bumbu. Ia bekerja pada tetangganya sebagai buruh cuci, juru masak dan semacamnya. Sampai akhirnya seorang calo PJTKI merayu berpuluh-puluh kali agar ia mau menjadi...

Blogger Tips

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabb engkau lah hendaknya kamu berharap.” (QS Al Insyirah [94]: 5-8)
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

Rabb, Sampaikanlah kami kepada kesucian diri

Engkau datang memintaku menjaga kesucian diri dengan jalan yang suci. Sungguh tawaran yang membuatku terheran mengingat engkau adalah seorang muslimah yang dikaruniakan Allah ke-shalehah-an, kecerdasan, dan tidak lupa engkaupun memiliki wajah yang anggun, sehingga mungkin itu juga yang menyebabkan para laki-laki muslim lainnya sering datang untuk meminangmu.

Hal itu kurasa adalah sebuah kewajaran, lantaran laki-laki muslim yang mana yang tidak tertarik dengan muslimah yang shalehah? Dan akupun juga muslim, wajar jika seorang muslim memiliki rasa berkeinginan untuk menjadi pemimpin bagi muslimah sholehah bagi dunia dan akhiratnya kelak. Namun apa daya, aku sebagai muslim ketika itu belum cukup siap untuk meminangmu, oleh karenanya selama ini akupun diam.

Namun, engkau datang dengan harapan yang besar untuk jalan yang suci itu, harapan yang mengingatkanku bahwa Allah adalah Maha kaya dan mampu memberikan kekayaan kepada siapa yang bersedia menjalankan niat suci itu, akupun tak pernah ragu mengenai hal itu karena akupun yakin.

Dorongan itu membuatku begitu semangat untuk bertemu orang tuamu dengan 'bekal' yang seadanya, namun tidaklah semua itu berjalan dengan Berkah jika aku tidak meminta pertimbangan kepada Allah, lantaran Allah Maha mengetahui Yang Terbaik bagi kita semua. Maka aku meminta kepadamu untuk memikirkan dan mempertimbangkan mengenai hal ini dalam beberapa hari.

Ku meminta pertimbangan kepadaNya, hingga suatu ketika timbullah pertimbangan yang belum sempat kita perhitungkan. Aku sadar bahwa aku masih belum siap untuk mengaplikasikan niat suci itu, mengingat bukan hanya harta yang menjadi pertimbangan untuk mengaplikasikan baiknya jalan itu, engkaupun tentunya juga tahu di mana keluargapun seharusnya menjadi pertimbangan tambahan mengingat pernikahan juga bertujuan untuk menyatukan dua keluarga. Dan mengenai itu aku belum sampai kepada titik temu walaupun aku sudah berusaha mencobanya kepada mereka, orang tuaku.

Apa boleh buat aku harus memutuskan hal yang sebenarnya tidak sanggup kuputuskan, namun atas dasar keimanan engkau memberanikan diri untuk menyatakan itu, zalim jika diriku harus bersikap tidak tegas mengingat permintaanmu atas urusan itu adalah permintaan yang suci. Maka kucoba memutuskan kepadamu bahwa saat ini aku belum mampu meminangmu, meskipun jujur ku sadari bahwa keputusan ini sangat berat bagi seorang muslim yang senantiasa membiasakan diri berdoa kepada Rabbnya untuk mendapatkan seorang muslimah yang shalehah. Namun karena keputusan ini adalah yang terbaik bagi hati masing-masing, maka atas dasar keimanan pula, ku ikhlashkan dirimu untuk memilih laki-laki muslim yang lain, yang baik dari sisi dunia dan akhiratmu dan dari sisi Rabbmu. Dan tidaklah keputusan ini sia-sia mengingat aku membutuhkan perjuangan yang besar untuk merelakan diriku berpisah dengannya karena Allah.

Aku yakin bahwa setiap usaha yang bersungguh-sungguh dalam menjauhkan diri dari apa yang Allah Benci adalah Jihad,

maka jika ini jihad, aku yakin bahwa Allah akan memberikan hadiah terbaik bagi mereka yang berbuat baik karenaNya.

Muslimah itu merupakan perhiasan dunia namun ku yakin jika aku merelakan dia karenaNya maka aku Berharap Allah mengkaruniakanku pendamping yang lebih baik bagiku dan baginya suatu saat nanti.

Beberapa hari lagi aku harus menyatakan keputusan itu kepadamu. Namun, sempat terlintas di fikiranku untuk memintamu menungguku, lantaran ada rasa khawatir jika aku tidak mendapatkan jodoh seperti dirimu. Maka ku coba untuk meminta pertimbangan lagi kepada Pemilik hati mengenai hal itu. Hingga akupun mulai mencermati jika saja engkau harus menerima permintaan itu maka aku harus berfikir ulang mengingat menunggu adalah sebuah penderitaan bagi seseorang, dimana menunggu mengenai hal itu akan cenderung menumbuhkan harapan kepada seseorang yang akan menjadi teman hatinya kelak dan tentunya juga rasa kekhawatiran akan keadaan buruk dapat cenderung terbayang sedangkan segala harapan telah tumbuh subur di dalam dada. Hingga kesedihanpun hadir ditengah-tengah hal yang tidak pernah diperkirakan. Ternyata baru tersadar bahwa usaha mendapatkan siapa yang diharapkan itu menjadi sia-sia dan hal tersebut justru dapat mengotori hati karena sempat terisi oleh hal yang belum sepatutnya terlahir di dalamnya.

Walaupun kita sama-sama mengetahui antara batasan-batasan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrim, namun kita bukan Nabi sedangkan Nabi Adam yang pernah tinggal di Syurga dan beliau juga dapat melihat iblis saja masih dapat terjerumus oleh rayuan iblis, lalu bagaimana dengan kita yang jelas-jelas bukan seorang Nabi dan bukan orang yang dapat melihat iblis akankah kita dapat berbuat lebih hebat daripada beliau jika bukan karena kita mengikuti Perintah Allah dengan menjauhkan diri dari langkah-langkah syaitan?

Kita memang sama-sama belum tahu siapa jodoh kita nanti dan kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan siapa jodoh kita walaupun kita berusaha dengan kekuatan kita, terkecuali jika Allah yang menghendaki. Jika kamu adalah perempuan yang akan halal aku Cintai kelak, seharusnya aku tidak membiarkanmu menderita lantaran menunggu seseorang yang belum pasti menjadi pendampingmu.

Bukankah jodoh tidak akan tertukar jika diri kita itu baik? Jika memang engkau adalah jodohku, untuk apa aku biarkan engkau menunggu sedangkan tanpa harus menuggupun Allah akan Mengkaruniakan seseorang dengan jodohnya dengan cara yang Berkah, bukankah Keberkahan adalah tujuan kita untuk menempuh jalan suci itu?

Lalu ku tersadar beberapa hari ini tawaran suci itu memenuhiku waktuku, dari kadar terberat hingga kadar terendah dalam usaha merelakan sebuah perhiasan. Namun Hadiah Allah jauh lebih Indah, bukan? Hal inilah yang membuatku menyatakan kepadanya di kemudian hari, dan kamipun menemumpuh hidup masing-masing.

Aku yakin bahwa setiap usaha yang bersungguh-sungguh dalam menjauhkan diri dari apa yang Allah Benci adalah Jihad,

maka jika ini jihad, aku yakin bahwa Allah akan memberikan hadiah terbaik bagi siapa saja yang berbuat baik karenaNya.

Muslimah itu shalehah maka aku yakin jika aku mengikhlashkannya maka Aku Berharap Allah mengkaruniakanku pendamping yang shalehah,

Saudaraku, ternyata usaha meng-ikhlas-kan diri itu mampu meringankan diri dan jiwa. Baru kusadari bahwa Allah telah mengajarkanku untuk ikhlas terhadap sesuatu godaan terbesar bagi Ummat Rasulullah, semoga keikhlasahan ini mengajarkanku untuk ikhlas terhadap hal lainnya hingga Keberkahanpun datang menjemput.

Biarlah Allah memeilih tanpa harus kita melakukan hal yang tidak DiridhaiNya, bukankah KeridhaanNya yang kita cari?

Kepada Cinta yang teralamatkan kepada Sang Pemilik Cinta
Kepada cinta yang tak seharusnya terungkap sebelum masanya tiba
Kepada kesucian yang tak pernah tercemar oleh noda
Maka ku ikrarkan kepada Sang Pemilik jiwa bahwa ku pelihara kesucian ini untukNya
Kemudian ku lepaskan apa yang tak baik bagiku demi mencari KeridaanNya
Dan, ku relakan keinginan hati dari ketidak Ridhaan kepada kepatuhan
Rabb, Sampaikanlah kami kepada kesucian diri
Berharap Engkau Mencintai kami dan Engkau tumbuhkan Cinta itu di hati kami hingga Cinta itu menumbuhkan keengganan di hati untuk menjadikan kami tidak cenderung kepada Cinta selainMu

Allahuma Amiin

Dan, hari ini, kulepaskan engkau dari hatiku...

Selasa, 07 Desember 2010

Cerpen : " Karena Manusia Tidak Pantas Di Surga "

Oleh : Erjie Al-Batamiy

Nabi Musa sedang termenung, bingung dan tak menentu luapan batinnya. Baru saja dia ingin melupakan perdebatan sengitnya dengan Nabi Adam. Dia malu, karena duel argumentasi antara dia dengan Nabi Adam dimenangkan secara mutlak oleh Nabi Adam.
Sesungguhnya dengan lapang dada Nabi Musa menerima kekalahannya, namun ada satu hal yang dirasa menyentil, hingga membuat dia merasa tidak nyaman.

Saat berdebat tadi, dengan lantang Nabi Musa berkata kepada Nabi Adam: “Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga”

Dengan sigap serangan tersebut ditangkis oleh Nabi Adam seraya menjawab: “Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?”

Ending perdebatan itu sudah bisa ditebak, Nabi Adam menang berdebat dengan Nabi Musa. Perang argument tersebut masih menyisakan residu ketidak-puasan dihati Nabi Musa,dia bertanya-tanya,

“Baiklah aku terima jika memang Allah telah berkehendak untuk mengusir Adam dari surga, hingga membuat semua manusia turun ke dunia, dan belum tentu apakah pada akhirnya akan kembali ke surga atau neraka, namun.. aku penasaran dan bertanya-tanya, mengapa Allah menciptakan takdir seperti itu? Buat apa? Bukankah lebih baik Adam tidak ditakdirkan untuk diusir dari surga, sehingga semua manusia bisa langsung menempati surga begitu mereka tercipta. Hmm.. sangat tidak mungkin Allah menggariskan hal tersebut, tanpa hikmah dan tujuan yang terkandung didalamnya, bukankah Allah adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana), ada baiknya hal ini kutanyakan saja, mungkin ini kali kedua aku akan berbicara dengan Allah secara langsung, setelah di Bukit Thursina dahulu”

Nabi Musa kemudian bergegas menuju Arsy, dimana Allah sedang bertahta dengan “Sarung Kebesaran-Nya” dan “Selendang Kesombongan-Nya”. Nabi Musa bermaksud meluapkan rasa ingin tahunya kepada Allah SWT. Diperjalanan dia bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Adam bertanya, “Hendak kemana engkau Musa?”, Nabi Adam sedikit heran. “Aku ingin bertemu dengan Allah SWT, ada hal penting yang ingin kutanyakan pada-Nya” Jawab Nabi Musa sembari melintas tanpa sedikitpun menoleh ke arah Nabi Adam.

Didorong akan bisikan-bisikan keingin-tahuan, langsung saja Nabi Adam mengikuti Nabi Musa menuju Arsy, agak cepat jalan Nabi Musa, namun Nabi Adam tetap menjadi makmum patuh mengikuti tempo jalan Nabi Musa.
Sesampai di ambang Arsy mereka berdua dicegat oleh Jibril,“Assalamu’alaikum” Sapa awal Jibril. “Wa’alaikum salam” Jawab keduanya. “Ada gerangan apa kalian datang kesini?” Jibril mulai menginterogasi.
“Aku ingin bertemu dengan Allah SWT, bisakah aku bertemu dengan-Nya?” Nabi Musa mulai memberikan keterangan awal kepada Jibril.“Benarkah?” Tanya Nabi Adam dan Jibril serentak kaget. “Ada perlu apa?” Interogasi lanjutan dari Jibril. “Maaf aku tak bisa mengatakannya, aku ingin menyampaikan langsung kepada Allah.”Jibril berfikir, menimbang rasa, namun dia tidak berani memutuskan, “Baiklah, kalian berdua tunggu disini sebentar. Aku akan menuju Arsy untuk melaporkan hal ini pada Allah SWT.”

Selagi menunggu, Nabi Adam bertanya pada Nabi Musa kembali, “Ada apa?” dengan enteng Nabi Musa merespon, “lihat saja nanti”, tak lama kemudian dari tempat mereka berpijak, terlihatlah bayangan gelap sayap yang semakin meluas, melirik ke atas, ternyata Jibril telah kembali dari Arsy untuk melapor kepada Allah SWT.

“Aku sudah menyampaikan perihal kedatanganmu kepada Allah SWT, dan Dia berfirman bahwa Dia telah mengetahui maksud kedatanganmu, Dia berfirman bahwa engkau datang kali ini untuk menanyakan hikmah dari takdir diturunkannya Adam ke dunia, benarkan?”

Nabi Musa diam tanda setuju, lalu Nabi Adam dengan nada terkejut, “Seriuskah engkau wahai Musa?”, “Tentu saja” Nabi Musa mantap.

“Namun sayang wahai Musa, Allah SWT telah menuliskan di lauhul mahfudz, bahwa engkau ditakdirkan berbicara dengan-Nya, hanya pada saat didunia dahulu dan nanti ketika setelah kiamat terjadi, yakni di negeri akhirat kelak, tidak untuk saat ini dan untuk itu Allah SWT telah memberi mandat kepadaku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu”. Jibril memberi penjelasan perihal pelaporannya tadi kepada Allah SWT, lalu tanpa diduga Jibril mengucapkan terima kasih kepada Nabi Musa atas kedatangannya.

“Terlepas dari ini semua, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu wahai Musa. Terima kasih atas kedatanganmu”

“Terima kasih untuk apa?” Nabi Musa keheranan.

“Aku berterima kasih karena berkat kedatanganmu ini aku bisa pergi ke Arsy lagi untuk menghadap Allah, kemudian diberi tugas kembali oleh Allah SWT untuk menyampaikan firman-Nya. Betapa senangnya. Tahukah engkau Musa, bahwa aku sangat merindukan tugasku dahulu sebagai penyampai wahyu Allah, sejak wafatnya kekasih Allah SWT, yakni Muhammad SAW, sejak saat itu aku menganggur. Aku tidak pernah lagi menjalani tugas sebagai penyampai wahyu, karena sejak Muhammad SAW wafat, sejak saat itu pula pintu kenabian telah tertutup, dan tentunya diikuti juga dengan tertutupnya pintu wahyu”

Nabi Musa memandang Jibril dengan tatapan meragukan, dia ragu apakah penjelasan Jibril itu valid, serta merta Nabi Musa berujar,

“Engkau berdusta wahai Jibril”, sergah Nabi Musa. “Apa yang ku dustakan” Jibril tidak terima. “Engkau berdusta bahwa saat ini engkau sedang menganggur, dan tidak pernah bertugas lagi untuk menyampaikan wahyu”, suasana memanas. “Buktikan jika aku berdusta” tantang Jibril.

“Baiklah” tantangan Jibril diterima Nabi Musa, sementara Nabi Adam enggan untuk ikut-ikutan, dia hanya menjadi pendengar.

“Wahai Jibril ketahuilah, pernah suatu hari datang beberapa kelompok malaikat. Mereka baru saja tiba dari belahan bumi bagian timur. Kebetulan saat itu kami berpapasan, saat sedang berpapasan dengan mereka, tanpa sengaja aku mendengar mereka saling berbisik-bisik, saling kasak-kusuk tentang sesuatu yang heboh, dari bisik-bisik tersebut setidaknya ada tiga hal yang aku dengar dan aku ingat hingga saat ini, pertama kelompok malaikat yang baru saja tiba dari negeri arab, mereka berbicara tentang ayat yang membahas masalah katak. Kedua kelompok malaikat yang baru saja tiba dari negeri bernama Lahore, mereka berbicara tentang nabi baru yang namanya mirip dengan nama Muhammad SAW, sedang ketiga kelompok malaikat yang baru saja tiba dari Indonesia, mereka berbicara tentang seorang wanita yang mengklaim dirinya sebagai penjelmaanmu wahai Jibril. Dari ketiga hal tersebut aku menafsirkan, bahwa kelompok malaikat yang pertama sedang bicara tentang Musailamah, sedang kelompok kedua sedang berbicara tentang Mirza Ghulam Ahmad, dan ketiga tentang Lia Aminudin. Nah, disebabkan adanya fakta-fakta tersebut, aku yakin bahwa engkau telah berdusta saat mengatakan sedang menganggur tidak memiliki tugas lagi untuk menyampaikan wahyu, sementara pada kenyataannya setelah wafatnya Muhammad SAW, masih saja ada nabi-nabi baru, yang tidak mungkin mendapatkan predikat nabi jika tidak mendapatkan wahyu, dan tidak mungkin wahyu itu bisa mereka dapatkan kecuali engkau yang menyampaikannya”

“Oohhhh..” Terang bagi Jibril maksud Nabi Musa. “Wahai Musa akan kuterangkan kepadamu sebagai bentuk klarifikasi dariku. Harus kau ketahui bahwa mereka semua, yang mengaku sebagai nabi adalah sekelompok manusia yang memiliki satu klasifikasi yang sama, yakni kelompok manusia yang mudah GR dan ke-PD-an. Lihatlah Musailamah, hanya karena para pengikutnya sangat mencintai dia dan menjuluki dia sebagai ar-rahman, dia telah berani memproklamirkan diri sebagai nabi dan dengan PD nya meminta kepada Muhammad SAW untuk membagi kekuasaan di bumi ini menjadi 2, seolah-olah risalah kenabian adalah ajang bagi-bagi wilayah kekuasaan, lalu ada Mirza Ghulam Ahmad dan Lia Aminudin, mereka berkata bahwa mereka telah diberi wahyu melalui mimpi, seolah-olah Allah SWT telah berfirman kepada mereka dan mengangkat mereka menjadi nabi, padahal mereka saja yang ke-GR-an, apa jaminannya bahwa yang mendatangi mereka melalui mimpi tersebut adalah Allah SWT atau aku sebagai penyampai wahyu? Tentu saja tidak ada. Mereka semua adalah pembohong di zamannya masing-masing, jadi tidak benar hal tersebut. Kesemuanya hanya fitnah belaka.”

“Engkau tidak sedang berdusta wahai Jibril?” Selidik Nabi Musa. “Sesungguhnya aku ini penyampai Kalamullah, tidak ada hak sedikit-pun atas ku untuk mendustakan lisanku ini” Jibril coba meyakinkan Nabi Musa, dan dengan senyum Nabi Musa berkata bahwa dia percaya, “Baiklah aku percaya”.

“Jika engkau telah percaya wahai Musa, ada baiknya kita lanjutkan pada acara inti, berkaitan dengan kedatanganmu kali ini untuk menanyakan hikmah diturunkannya Adam ke dunia” Nabi Adam yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara, “Bagus ada baiknya kita mulai sekarang saja. Sejujurnya aku sudah tidak sabar dan penasaran ingin mengetahui alasannya”

“Bismillah” Jibril memulainya dengan menyebut nama Allah SWT. “Wahai Musa, sebelum aku menjelaskan alasan Allah SWT mentakdirkan Adam turun ke dunia, ada baiknya akan aku jelaskan terlebih dahulu makna Al-Hakim menurut ajaran Islam, namun.. karena dari sisi pandangan Islam, untuk itu aku akan menggunakan Al-Qur’an sebagi rujukannya. Aku harap engkau tidak tersinggung wahai Musa karena tidak menggunakan kitab yang diturunkan Allah SWT kepadamu yakni Taurat”

“Tentu tidak. Aku sama sekali tidak tersinggung. Risalah kenabian merupakan masalah estafet penyampaian, makin ke belakang makin menyempurnakan. Begitu juga dengan kitab kenabian, kitab yang datang belakangan merupakan kitab yang membenarkan sekaligus menyempurnakan kitab terdahulu, tentu tidak relevan jika aku ngotot untuk tetap menggunakan taurat, bukankah apa yang ada didalam taurat telah terkandung didalam Al-Qur’an”

“Baiklah jika memang begitu. Didalam Islam Al-Hakim memiliki makna yaitu Dzat pemilik hikmah yang Maha Sempurna. Artinya Allah 'Azza Wa Jalla tidak pernah menciptakan dan memerintahkan sesuatu kecuali untuk suatu hikmah dan semua ketetapan Allah termasuk taqdir adalah ketetapan yang bijaksana, tepat dan bagus. Tidaklah Allah SWT menciptakan sesuatu apapun untuk tujuan yang sia-sia, dan tidak pula Allah SWT menetapkan hukum syariat apapun kecuali sesuatu yang pasti maslahat. Dari pengertian tersebut wajib bagi kita untuk terlebih dahulu merangkai kerangka pikiran dan hati kita, dengan memasukkan sebuah foto bergambar senyuman keikhlasan. Dimana foto tersebut merupakan lambang dari bentuk husnu-dzan terhadap Allah SWT dan bentuk keikhlasan untuk menerima semua yang telah digariskan oleh Allah SWT, karena percaya, apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT itu sudah pasti baik” Terbayang sejenak serpihan kenangan dibenak Jibril. Dia teringat sekaligus rindu akan kenangan masa lalu dimana dia masih sering mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW dahulu, saat Rasulullah SAW masih hidup di dunia.

“Dan alasan mengapa Allah SWT mentakdirkan Adam untuk turun ke dunia adalah karena harga diri mahluk bernama manusia, yang menghalangi mereka untuk langsung tinggal di surga begitu mereka tercipta. Sesungguhnya pada saat Adam diciptakan untuk pertama kalinya, Allah SWT langsung memerintahkan kami para malaikat untuk sujud sebagai suatu bentuk penghormatan, karena manusia mahluk yang mulia, untuk itulah mereka ditugaskan sebagai khalifah di dunia”

“Lalu?” Satu kata dari Nabi Musa.

“Sekarang aku bertanya padamu wahai Musa, pantaskah seorang yang ingin diberi predikat sebagai seorang sarjana, namun untuk mendapatkan predikat tersebut dia hanya menjalani Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SD, sungguh tidak pantas, karena begitu dia lulus dari ujian tingkat SD tersebut, dia hanya pantas menyandang gelar sebagai tamatan SD bukan sarjana, sehingga tidak ada bedanya dengan manusia, sungguh tidak pantas bagi kalian diberi predikat oleh Allah SWT sebagai mahluk terbaik yang pernah diciptakan-Nya, kemuliaannya melebihi kami para malaikat sampai-sampai kami harus sujud menghormatinya, lalu Allah SWT memberi ilmu yang lebih dibandingkan kami, dan atas kelebihan-kelebihan tersebut pantaskah kalian untuk menempati surga tanpa di uji sama sekali? Sangat tidak pantas tentunya. Harga diri kalian sangat tinggi dan membuat kalian tidak pantas untuk menempati surga tanpa terlebih dahulu menjalani ujian di dunia sebagai mahluk bernama manusia”

“Seandainya saja manusia boleh memilih untuk ditakdirkan bisa langsung menempati surga tanpa menjalani ujian sebelumnya?” Tiba-tiba Nabi Adam menggubris dialog antara Nabi Musa dengan Jibril.

“Konsekuensinya wahai Adam, kalian tidak pantas menyandang gelar sebagai manusia, kalian tidak pantas disebut sebagai mahluk terbaik Allah SWT, dan kami tidak sudi untuk melakukan sujud penghormatan kepada kalian, karena dengan begitu klasifikasi kalian tentu berada lebih rendah dari mahluk bernama manusia. Sekali lagi aku katakan bahwa kalian wajib untuk menjalani ujian hidup di dunia, karena kalian adalah manusia, mahluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya. Untuk itu bersuka citalah kalian atas kemuliaan yang kalian dapatkan itu”..“Setuju” jawab Nabi Adam dan Nabi Musa serentak. Mereka sumringah. Bersama-sama mereka saling berujar dengan sebuah kalimat bijak, ”Mengapa engkau harus menjalani ujian dunia sebelum kembali ke surga? Karena aku adalah mahluk bernama manusia!”. Jibril ikut-ikutan menimpali,

“Andaikan ada yang bertanya, maukah kalian hidup di surga begitu tercipta?” dengan kompak Nabi Adam dan Nabi Musa menjawab,..“Ih.. emang kita makhluk apaan, kita ini manusia gitu lhoo... “. “Ha..” Mereka semua tertawa.

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am:18)

Sabtu, 04 Desember 2010

Cerpen Pengaman Pernikahan I ( Pra Nikah )

Damai terasa malam merona. Langit cerah melugaskan penampakan bintang yang mengangkasa. Sayup-sayup suara jangkrik berkilah sebabkan marak suasana. Menampilkan kesempurnaan dari rumus-rumus indah ayat-ayat Tuhan. Ingin melewati tanpa menikmati salah satu episode malam-malam nan indah, dirasa sayang jika tidak dapat dikatakan terlalu legit untuk berlalu begitu saja. Memberikan isyarat pada Alya agar beranjak keluar rumah merasai manisnya malam itu.

Kesejukan hati dan ketenangan jiwa mengalir santun dalam sanubari Alya. Baru saja dia melalui malam itu dengan sholat isya’ berjamaah bersama ibunda tercinta. Diikuti dengan dua rakaat ba’diyah isya’, terasa lengkap menguraikan kekhusyukan di qalbu. Dilain tempat sang abi setelah mengimami sholat isya’ di Masjid Al-Fath, sibuk mempersiapkan agenda rutin masjid. Maklum sebentar lagi akan memasuki rotasi rutin tahunan mengenai pergantian pengurus masjid.

Ibunda Alya sudah lebih dulu berada di teras depan rumah kala itu. Duduk sambil menghirup segarnya udara malam. Senyumnya sederhana, tatapannya-pun damai. Terpancar mimik syukur diwajahnya yang tak lagi muda, sebab kini telah ada wajah muda lainnya yang menggantikannya yakni Alya. Tak terasa sang waktu telah membuat Alya kini menjadi gadis dewasa. Umur Alya kini sudah diatas 20 tahun dan dari batin tulusnya terpatri sebuah kesiapan untuk beribadah menyempurnakan setengah agama selain bertaqwa. Tiada lain adalah pernikahan. Iya, Alya merasa kini sudah waktunya dan kini jua sudah saatnya Alya harus mulai pelan-pelan membicarakan perihal tersebut kepada orang tua tercinta, dimulai dari hati ke hati terlebih dahulu pada ibunda.

Demi melihat ibundanya bersantai, muncul rasa manja dari lubuk hati Alya. Tanpa pemberitahuan lebih dulu, langsung saja Alya duduk didepan ibundanya dan memunggungi beliau. Sontak ibundanya sedikit kaget, namun perlahan sadar dan mengerti bahwa sang putri tercinta ingin dirangkul sayang. Tampaknya ada hal penting yang ingin dicurahkan. Ibundanya sangat paham karena beliau yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Alya. Tabiat Alya sudah menjadi kesehariannya.

“Bunda… malamnya indah ya…” Alya memulai dialog.

“Iya anandaku…” Tak lupa senyum keteduhan menghiasi wajah sang bunda.

“Subhanallah, betapa indah rangakaian langitnya ya bunda. Bintang-bintang bertaburan menembus dinding langit malam, tak lupa bulanpun mengikuti menjadi sebuah rangkaian yang serasi. Kala siang tengah beristirahat bersama terangnya, disebabkan Sunatullah, malam lalu merapat masuk bersama gelapnya. Allahuakbar… perpaduan yang sungguh indah” Alya coba mentadaburi ayat-ayat kauniyah Allah ‘azza wa jalla.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Shadaqallahul ‘adzim” Tadabur Alya disempurnakan oleh sang bunda melalui pelafalan firman suci-Nya (QS Yasin : 36 & QS Adz-Dzariat : 49)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Alya menimpali dengan lafadz Al-Qur’an Surat Al-Mulk : 3.

“Begitulah indahnya Allah, tampak dari perbuatan-Nya. Kreasinya saja telah begitu indah di mata kita, apalagi Sang Penciptanya, yang Maha Indah lagi mencintai keindahan.”

“Subhanallah…” Komentar kecil dari lisan Alya.

“Begitu jua dengan penciptaan manusia duhai anandaku. Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan (QS An-Najm : 45)”

Alya melirik kearah bundanya sambil tersenyum simpul. Wajahnya memerah saat sang bunda menyinggung ayat tersebut. Tampaknya bunda paham sudah tiba waktunya untuk membicarakan pernikahan. Mungkin mukadimah dari rangkai ilmu pernikahan akan mulai bunda sampaikan sebagai titipan untuk bekal berharga bagi sang putri kelak.

“Bunda rasa sudah saatnya bagi bunda dan ananda untuk membicarakan masalah pernikahan. Bunda sadar ananda sekarang sudah beranjak dewasa. Begitu juga dengan bunda dan abi yang semakin tua. Mungkin kinilah saatnya bagi abi dan bunda untuk mulai mempersiapkan diri merelakan putri tercintanya melanglang menaiki biduk rumah tangga yang dibina bersama suami tercinta mengarungi samudera kehidupan. Inilah fase dari konsekuensi sunatullah, tapi sebelum fase itu betul-betul menghampiri…” Ibunda Alya jeda sejenak.

Tangan Alya tampak menggenggam jari jemari ibunda. Tatapan penuh harap dan manja dari seorang putri kepada ibundanya merpresentasikan keinginan terbesar Alya. Ibunda membalas genggaman Alya. Ibundanya tak menyangka bila telah tiba bagi dirinya untuk memberikan bimbingan pernikahan kepada darah dagingnya sendiri. Selama ini sebagai konsultan pernikahan islami sekaligus psikolog, ibunda Alya hanya memberikan jasa konsultasi, saran atau masukan kepada pasangan suami istri yang kebanyakan memang tidak dikenal sebelumnya.

“Sebelum ananda betul-betul mengarungi samudera kehidupan dengan berumah tangga, ada baiknya atau mungkin wajib bagi bunda untuk memberikan arahan mengenai bekal-bekal apa saja yang harus ananda persiapkan sebelum memulai kehidupan berumah tangga”

“Ananda siap mendengarkan wahai ibunda…”

“Baiklah. Bekal yang bunda maksudkan ialah bekal yang perlu dipersiapkan bagi ananda sebagai pengaman selama berada di perjalanan berumah tangga. Pengaman tersebut bunda bagi kedalam dua fase agar lebih mudah bagi ananda untuk mengingat dan memahaminya. Dua fase tersebut ialah pra-nikah dan pasca-nikah. Bunda akan menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh ananda guna pengamanan, baik pada fase pra-nikah maupun pasca-nikah”

Alya terus menyimak dengan runut penjelasan sang bunda.

“Pertama akan bunda mulai dulu dari pengaman pernikahan pada fase pra-nikah. Pada dasarnya hal-hal yang perlu dipersiapkan baik oleh ikhwan maupun akhwat sama dan hal yang sangat mendasar dan fundamental untuk pertama kali dipersiapkan ialah niat. Ananda tentu tahukan apa yang seharusnya di niatkan bagi seorang yang mengaku sebagai muslim atau muslimah sebelum menikah”

“Tiada lain yaitu niat ibadah kepada Allahu ta‘ala bunda” Alya menjawab mantap.

“Betul sekali anandaku. Hal paling mendasar yang perlu dipersiapkan sebelum menikah ialah meluruskan niat ananda untuk menikah dengan motivasi beribadah kepada-Nya. Tidak salah, tidak salah sama sekali jika kita menikah disebabkan alasan psikis karena saling mencintai kemudian sepakat untuk menikah atau karena alasan biologis berupa dorongan syahwat pun tidak salah, namun jangan jadikan hal-hal tersebut sebagai satu-satunya alasan untuk menikah, terlepas dari kehendak untuk beribadah kepada-Nya. Berapakah lamanya perasaan cinta yang mampu bersemai dihati sepasang kekasih tanpa nilai ketaqwaan didalamnya dan seberapa mampukah gejolak syahwat diredam hanya karena tuntunan pemenuhan biologis semata. Sudah menjadi tabiat dasar manusia yang tidak pernah puas akan kesenangan dan kenikmatan, sampai-sampai Rasulullah bersabda adalah bani adam yang apabila diberi kepadanya sebuah lembah yang penuh emas, maka pasti dia akan meminta lembah lainnya berisi emas juga. Agar tendensi ketidak puasan tersebut mampu untuk dikendalikan, tak lain hanya dengan menggunakan rambu-rambu syariat dimana salah satunya ialah dengan menjadikan niat menikah dimotivasi akan keinginan untuk beribadah kepada-Nya sehingga mampu melahirkan sifat qana’ah atau kecukupan hati. Bukankah tujuan menikah ialah menciptakan ketenangan dan perasaan cinta serta kasih (sakinah, mawadah, warahmah) antara suami istri. Tidaklah ketenangan hati mampu dicapai kecuali dengan mengingat Allah dan tidaklah seseorang bisa mengingat Allah secara sempurna kecuali dia tengah beribadah kepada-Nya, sedangkan pemilik sesungguh-Nya dari perasaan cinta dan kasih ialah Allah SWT sehingga menjadi hak-Nya untuk memberikan perasaan tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan tentu saja menjadi hak-Nya juga untuk mencabut perasaan tersebut kapan saja Dia mau. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar Allah SWT sudi untuk senantiasa menjadikan perasaan cinta dan kasih bersemayam dihati kita? Tentu saja dengan membuat Dia ridho melalui ibadah kepada-Nya”

…HAL PALING MENDASAR YANG PERLU DIPERSIAPKAN SEBELUM MENIKAH IALAH MELURUSKAN NIAT ANANDA UNTUK MENIKAH DENGAN MOTIVASI BERIBADAH KEPADA-NYA…

…BERAPAKAH LAMANYA PERASAAN CINTA YANG MAMPU BERSEMAI DIHATI SEPASANG KEKASIH TANPA NILAI KETAQWAAN DIDALAMNYA…

…SEBERAPA MAMPUKAH GEJOLAK SYAHWAT DIREDAM HANYA KARENA TUNTUNAN PEMENUHAN BIOLOGIS SEMATA…

Sesekali suara jangkrik terdengar menyelingi dialog antara Alya dan Ibundanya. Sesekali juga dari arah masjid terdengar suara-suara pengumuman seputar agenda Masjid Al-Fath oleh pengurusnya.

“Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Konsekuensinya ialah kita dicipta dan ada untuk mengabdi kepada-Nya, namun karena kasih sayang-Nya, Allah tetap memberikan penghargaan bagi mereka yang mengabdi kepada-Nya berupa pahala dan surga. Berpijak pada nash diatas, memberikan petunjuk bagi kita untuk menjadikan setiap detil kehidupan adalah ibadah kepada-Nya. Meskipun itu pada saat kita makan, minum, bahkan tidur. Apalagi untuk hal besar seperti pernikahan, tentu saja wajib terkandung nilai-nilai ‘ubudiyah didalamnya. Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS An-‘Aam : 162)”

Resapan dan pencernaan akan pencerahan untuk sebuah kefakihan dari sang bunda sedang dilakukan Alya. Alhamdulillah segala apa yang disampaikan ibundanya barusan mampu diterima dan dimengerti dengan baik oleh Alya.

“Seandainya saja rumah tangga di ibaratkan sebuah perahu, maka niat menikah adalah kompasnya. Kompas yang benar akan menunjukan arah yang benar. Begitu juga dengan kompas yang salah akan memberikan arahan yang menyesatkan. Tidaklah kita mampu memiliki kompas rumah tangga yang benar kecuali dengan menjadikan kompas atau niat menikah karena ingin beribadah kepada-Nya. Memiliki kompas yang benar insya Allah akan memberikan kita petunjuk yang jelas arah mana hendak dituju dan tiada lain tujuan dari perahu rumah tangga ialah menuju kepada ufuk keabadian dan kenikmatan yang sesungguhnya yakni surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukankah kesana tujuannya wahai anandaku?” Bunda coba membangun dialog interaktif dengan Alya.

…SEANDAINYA SAJA RUMAH TANGGA DI IBARATKAN SEBUAH PERAHU, MAKA NIAT MENIKAH ADALAH KOMPASNYA…

…TIDAKLAH KITA MAMPU MEMILIKI KOMPAS RUMAH TANGGA YANG BENAR KECUALI DENGAN MENJADIKAN KOMPAS ATAU NIAT MENIKAH KARENA INGIN BERIBADAH KEPADA-NYA…

“Betul bunda, insya Allah. Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu” Alya membaca Kalamullah QS Ar-Ra’d : 23.

“Kita tidak perlu khawatir untuk tersesat atau kehilangan arah jika ingin menuju ufuk surga sekaligus juga mereguk nikmat sakinah, mawadah, warahmah dalam berumah tangga di dunia, karena antara sakinah, mawadah, warahmah dan surga adalah searah. Semuanya memiliki arah yang sama. Jaraknya pun hanya sepenggal, yakni kematian. Itu saja. Kematian yang bersifat sementara menuju pada kehidupan sebenarnya. Jadi seandainya kompas yang ananda miliki menunjukan bahwa ananda telah berada di jalur sakinah, mawadah, warahmah, maka bersuka citalah, sebab jalur tersebut akan membawa perahu rumah tangga ananda mengarah pada ufuk surga-Nya Allah, insya Allah” Bunda tersenyum memberikan ghiroh positif kepada putri tercintanya.

“Amin Allahumma amin ya bunda” Mata Alya tampak berkaca. Dia merasa beruntung memiliki bunda yang mampu menjadi madrasah ilmu baginya. Memberikan ilmu yang mungkin tidak didapatkannya di madrasah-madrasah lain.

“Tapi anandaku, wajib untuk diketahui bahwasanya memiliki kompas atau niat yang benar saja tentu belum cukup. Ananda masih butuh sesuatu untuk membaca kompas tersebut, karena jika salah membaca arah kompas, sekalipun kompas yang ananda miliki adalah kompas yang benar, maka bisa jadi ananda tidak bisa mencapai arah yang ingin dituju. Bisa jadi salah arah atau juga tersesat”

“Apakah sesuatu tersebut wahai bunda?”

“Sesuatu itu ialah ilmu”

Alya paham, kearah mana sang bunda mengajak dirinya bicara.

“Ananda butuh ilmu untuk membaca kompas yang ananda miliki. Adanya pengetahuan atau kemampuan untuk membaca kompas dengan benar akan sangat menolong ananda untuk benar-benar berlayar ke arah yang dimaksud, insya Allah tidak akan tersesat. Pernikahan adalah amal dan seandainya kita mengikuti analogi Rasulullah SAW bahwa amalan ibarat buah, maka tidaklah kita mampu menghasilkan buah yang sehat dan berkualitas serta manis rasanya kecuali buah tersebut memiliki akar yang kokoh yakni niat yang benar dan pohon yang mapan yaitu ilmu yang memadai. Sebelum menikah setidaknya ananda telah memiliki ilmu-ilmu seperti, bagaimana menjadi seorang istri sholehah, yang apabila dipandang dia menyenangkan suaminya, apabila diperintah dia taat dan apabila ditinggal dia mampu menjaga diri dan harta suaminya, lalu ilmu bagaimana menjadi makmum yang baik, untuk selalu taat kepada perintah suami selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, kemudian juga memiliki ilmu bagaimana agar bisa menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan tak lupa ilmu bagaimana menjadi partner yang kompak dan sahabat terbaik bagi suami, dimana istri bisa menjadi tempat bagi suami untuk meminta saran, pendapat atau masukan juga berkeluh kesah bahkan bermanja. Tidak melulu istri yang harus selalu berkeluh kesah dan meminta solusi serta bermanja kepada suami. Dan yang tak kalah pentingnya ialah ilmu bagaimana menjadi pakaian yang baik bagi suami, yang mampu memperindah tampilan dan harga diri suami pada semua orang dengan menjaga tingkah laku dan akhlakul karimah, lalu menutup aib-aib dan kekurangan suami dimata semua orang, sehingga suami merasa nyaman dan aman untuk menampakkan kelemahan dan kekurangan dirinya hanya pada istri tercinta”

…ADANYA PENGETAHUAN ATAU KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA KOMPAS DENGAN BENAR AKAN SANGAT MENOLONG ANANDA UNTUK BENAR-BENAR BERLAYAR KE ARAH YANG DIMAKSUD, INSYA ALLAH TIDAK AKAN TERSESAT…

Ingatan Alya coba mengulas ilmu-ilmu yang pernah didapatnya seputar masalah munakahah.

“Bukan berarti anandaku harus berhenti mencari ilmu saat telah menikah, teruslah belajar dan menjadi pembelajar yang setia, namun demikian, sebaiknya ilmu-ilmu yang bunda sebutkan tadi telah ananda miliki terlebih dahulu sebelum ananda menikah”

“Insya Allah bunda, ananda akan terus belajar dan menjadi pembelajar yang setia”

“Sementara bagi ikhwan yang akan menikah, ilmu yang harus dipersiapkan tidak jauh berbeda, hanya saja mungkin yang harus dipersiapkan oleh mereka dan agak berbeda memang ialah bagaimana menjadi imam yang baik. Mampu membimbing istri dan anak-anaknya menuju pada jannah-Nya dan menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS At-Tahrim : 6). Perlu diketahui oleh para ikhwan bahwa dengan menikah berarti jumlah keluarga yang harus dipeliharanya dari siksa neraka semakin bertambah. Tadinya yang termasuk keluarganya hanya dirinya, orang tuanya dan adik beradiknya, maka setelah menikah, jumlah orang yang termasuk keluarganya menjadi bertambah, yaitu istrinya, anak-anaknya, mertuanya dan adik atau kakak iparnya”

“Betapa besar tanggung jawab mereka ya bunda”

“Ngomong-ngomong masalah tanggung jawab, bunda agak prihatin melihat fenomena yang berkembang akhir-akhir ini. Fenomena para kaum pembela gender yang berusaha menafikan hukum-hukum Allah SWT yang membicarakan tentang hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Salah satu contohnya saja ialah mengenai pembagian warisan, dimana Allah SWT telah menetapkan perbandingan 2 : 1 antara anak laki-laki dan perempuan, namun masih saja ada orang-orang yang menganggap bahwa hukum tersebut tidak adil, Masya Allah. Saat berbicara masalah hak mereka ingin adanya kesetaraan, namun tatkala dihadapkan pada masalah kewajiban dan tanggung jawab, mereka enggan untuk mensetarakannya. Tidak sadarkah mereka bahwa di akhirat kelak para suami tidak saja mempertanggung jawabkan dirinya seorang dihadapan Allah SWT, melainkan juga harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya atas istri dan anak-anaknya. Betapa besar beban dan tanggung jawab tersebut, Maukah kaum pembela gender mengambil alih sebagian kewajiban tersebut? Bunda rasa tidak” Kembali ibunda Alya tersenyum.

“Oleh karena itu anandaku, bunda berusaha sekuat tenaga untuk mensholehahkan diri. Hal itu bunda lakukan karena disamping rasa cinta dan takut bunda kepada Allah, juga karena bunda sangat sayang dan cinta kepada abi. Bunda tidak ingin akibat kesalahan dan dosa-dosa yang bunda lakukan malah akan menjerumuskan abi kedalam neraka karena dinilai gagal menjalankan fungsi sebagai qowwam bagi istrinya. Na’udzubillahi min dzalik. Sekarang bunda semakin mengerti dengan maksud hadits Rasulullah yang berbunyi : barang siapa (lelaki) diberi rizki oleh Allah berupa istri sholehah, maka sesungguhnya Allah telah menolong atas sebagian agamanya, dan hendaklah mereka bertaqwa untuk menyempurnakan sebagiannya lagi. Kesholehahan kita sebagai seorang istri betul-betul akan mampu menjadi penolong bagi suami, terlebih lagi saat di yaumil hisab kelak. Semoga kamu dapat mengambil ibroh dari hal tersebut ya sayang”

…BUNDA TIDAK INGIN AKIBAT KESALAHAN DAN DOSA-DOSA YANG BUNDA LAKUKAN MALAH AKAN MENJERUMUSKAN ABI KEDALAM NERAKA KARENA DINILAI GAGAL MENJALANKAN FUNGSI SEBAGAI QOWWAM BAGI ISTRINYA…

Menyeruak setangkup rasa kagum dalam benak Alya. Menebarkan perasaan mengidolakan sang bunda. Bundaku idolaku, begitulah salah satu adagium yang selalu terlintas di batin Alya. Betapa mulia akhlak yang dimiliki sang bunda. Alya merasa beruntung pernah lahir dari rahimnya.

“Setelah niat yang benar dan ilmu yang memadai telah ananda miliki, maka ananda hanya tinggal membutuhkan satu hal lagi sebelum memutuskan siap untuk menikah. Sesuatu tersebut ananda butuhkan guna mengamalkan atau mengaplikasikan ilmu yang telah ananda miliki. Sesuatu tersebut ialah mental. Mental untuk berani mengaplikasikan ilmu yang telah ananda miliki menjadi sebuah amalan agung yaitu pernikahan. Mental untuk berani mengambil resiko atau konsekuensi logis apa yang akan ananda terima jika kelak ananda menikah. Tanpa kesiapan mental maka niat dan ilmu yang ananda miliki akan selalu sebatas wacana. Belum bisa ditindak lanjuti menjadi sebuah aksi.”

…TANPA KESIAPAN MENTAL MAKA NIAT DAN ILMU YANG ANANDA MILIKI AKAN SELALU SEBATAS WACANA. BELUM BISA DITINDAK LANJUTI MENJADI SEBUAH AKSI…

Konklusi sementara akan diberikan oleh sang bunda.

“Itulah hal-hal yang perlu ananda persiapkan sebelum ananda memutuskan untuk menikah. Pertama niat karena ingin bertaqarrub atau mendekatkan diri serta beribadah kepada-Nya. Kedua ilmu yang memadai sebagai seorang istri dan ketiga ialah mental untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu sebagai seorang istri. Sudahkah ananda memiliki ketiganya?” Bunda bertanya ramah, sedang Alya menjadi malu untuk menjawabnya.

…PERTAMA NIAT KARENA INGIN BERTAQARRUB ATAU MENDEKATKAN DIRI SERTA BERIBADAH KEPADA-NYA. KEDUA ILMU YANG MEMADAI SEBAGAI SEORANG ISTRI DAN KETIGA IALAH MENTAL UNTUK MENGAPLIKASIKAN ILMU-ILMU SEBAGAI SEORANG ISTRI…

“Alya belum berani menjawabnya sekarang bunda. Alya masih perlu bertafakur dan muhasabah diri untuk menjawab sudahkah Alya memiliki ketiga hal tersebut. Alya masih perlu waktu bunda”

“Bunda paham wahai ananda. Kehati-hatian itu datangnya dari Allah, sementara ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan”

“’Adzubillahi sami ‘il ‘alimi minasy syathan nirrajim”

“Ada satu materi tambahan yang ingin bunda sampaikan. Sebenarnya ini khusus untuk ikhwan saja, namun tidak ada salah ananda mengetahuinya juga”

“Apa itu bunda?”

“Disamping ketiga hal yang bunda sebutkan tadi, ada satu hal tambahan yang perlu dipersiapkan oleh ikhwan sebelum mereka memutuskan untuk menikah, yaitu kesiapan bermateri”

“Kesiapan bermateri bunda?”

“Iya, kesiapan bermateri. Ananda simak baik-baik kata bunda. Bunda tidak mengatakan kesiapan materi, tapi bunda mengatakan kesiapan bermateri”

“Apa perbedaannya bunda?”

“Bila membicarakan masalah kesiapan materi, maka saat itu kita tengah membicarakan tentang materi, yang tentu saja bersifat eksternal. Berbeda apabila kita tengah berbicara tengah kesiapan bermateri, maka yang tengah kita bicarakan ialah masalah mental. Ranahnya masuk pada hal yang bersifat internal”

Sepoi angin mengoyangkan dedaunan. Rapuh akibat kekeringan menyebabkan daun-daun kering gugur ke bumi menimbulkan satu peristiwa yang meski kecil namun tak mungkin luput dari Pengetahuan-Nya. Begitu juga pada Alya. Sepoi angin memberikan inspirasi baginya untuk menyibak satu ilmu baru yang belum pernah didengarnya.

“Disamping mental untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka miliki, para ikhwan juga wajib menyiapkan mental lain terkait kesiapan mereka untuk menikah, yaitu mental survive dan pantang menyerah untuk mencari maisyah. Itulah yang dimaksud dengan kesiapan bermateri. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf (QS Al-Baqarah : 233)”

…DISAMPING MENTAL UNTUK MENGAPLIKASIKAN ILMU YANG TELAH MEREKA MILIKI, PARA IKHWAN JUGA WAJIB MENYIAPKAN MENTAL LAIN TERKAIT KESIAPAN MEREKA UNTUK MENIKAH, YAITU MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH UNTUK MENCARI MAISYAH. ITULAH YANG DIMAKSUD DENGAN KESIAPAN BERMATERI…

“Mental survive dan pantang menyerah maksudnya gimana bunda? Apa itu berarti materi tidak diperlukan?”

“Materi tentu saja penting ananda, walaupun materi bukan segala-galanya, tapi segala-galanya akan sulit bergerak jika tidak ada materi, namun seandainya kita menjadikan materi sebagai patokan kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, maka hal tersebut menjadi sangat relatif. Sekarang bunda tanya sama ananda, kira-kira materi apa ya yang minimal harus dimiliki sebelum seorang ikhwan memutuskan bahwa dirinya telah siap untuk menikah?” Bunda coba menguji putrinya yang masih memerlukan pendewasaan.

Alya tak mampu menjawab. Dia takut salah, karena ilmunya belum memadai dalam memahami masalah ini. Ditambah lagi dia tahu sang bunda sedang mengujinya.

“Sudah ada rumah meskipun masih ngontrak? Mobil? Motor?”

Alya hanya diam. Dia tidak ingin gegabah apalagi menjadi sok tahu.

“Bunda akan mengetengahkan satu contoh kehidupan rumah tangga pada masa Rasulullah, yaitu kehidupan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Pada saat Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah, harta apa yang dimiliki oleh Ali? Hanya baru perang saja. Hanya itulah yang dimiliki oleh Ali. Apakah Fatimah protes lalu menuntut lebih dari Ali? Adakah Rasulullah keberatan untuk melepaskan putri kesayangannya menikah dengan Ali? Fatimah sadar sebagai seorang suami Ali sudah berusaha keras untuk melaksanakan kewajibannya dalam memberikan nafkah dan Ali sudah berikhtiar semampunya untuk itu, namun bukankah untuk masalah hasil merupakan urusan Allah? Masalah hasil sudah diluar kewenangan Ali”

“Allah lebih melihat pada proses sebab masalah hasil adalah hak-Nya” Komentar singkat nan padat dari Alya.

“Memang kita juga harus realistis bahwa standar minimal kebutuhan rumah tangga pada masa Rasulullah dengan masa kini sungguh sangat jauh berbeda. Sekarang kalau mau berpergian kemana-mana saja harus dengan ongkos. Tidak demikian pada masa Rasulullah cukup dengan berjalan kaki walau memang waktu yang dibutuhkan lebih. Pada masa Rasulullah untuk pendidikan tidak dikenai biaya sama sekali cukup dengan datang ke majelis ilmu saja. Berbeda dengan zaman sekarang baik dari tingkat Taman Kanak-Kanak apalagi tingkah kuliah, semua dikenai biaya. Itu salah satu contoh kecil saja dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa dibandingkan. Meskipun demikian tetap saja materi tidak bisa dijadikan tolak ukur karena bersifat relatif. Rasa cukup itu letaknya dihati bukan pada materi sehingga merupakan faktor internal bukan eksternal. Janganlah kita terjebak pada pola materialis yang serba matematis dalam menyikapi karunia Allah. Janganlah kita berasumsi bahwa seandainya kebutuhan untuk seorang pria adalah satu juta per bulan maka tatkala sang pria telah menikah, kebutuhannya berlipat menjadi dua juta per bulan. Sungguh pragmatis dan matematis. Bukankah Rasulullah bersabda bahwa makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang, begitulah seterusnya. Pada hadits tersebut sebenarnya memberikan kita pelajaran bahwa sebenarnya makanan tersebut tidak pernah berubah dari segi kuantitas. Jumlahnya cuma segitu-segitu saja, namun yang berubah ialah penyikapan dari manusia yang menyantap makanan tersebut. Sikap merekalah yang perlu berubah dalam menilai cukup tidaknya makanan buat satu orang untuk disantap oleh dua orang dan seterusnya”

…JANGANLAH KITA TERJEBAK PADA POLA MATERIALIS YANG SERBA MATEMATIS DALAM MENYIKAPI KARUNIA ALLAH…

…SIKAP MEREKALAH YANG PERLU BERUBAH DALAM MENILAI CUKUP TIDAKNYA MAKANAN BUAT SATU ORANG UNTUK DISANTAP OLEH DUA ORANG DAN SETERUSNYA…

Malam semakin larut sementara dialog antar ibu dan anak semakin menghangat.

“Cukuplah mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja dari seorang ikhwan menjadi pertanda bahwa dia telah memiliki kesiapan bermateri. Lalu menjadi pertanyaan yang krusial adalah, bagaimana cara kita menilai bahwa seorang ikhwan telah memiliki mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja?”

“Yang bertanya jauh lebih tahu daripada yang ditanya” Alya mempersilahkan ibunda menyelesaikan nasehatnya.

“Cara menilainya ialah dengan melihat kegigihannya dalam bekerja. Mengetahui usaha-usaha apa saja yang telah dilakukannya dalam mencari nafkah, meskipun hasil dari kegigihan dan usahanya tersebut belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Itulah cara menilainya ananda. Perlu digaris bawahi wahai anandaku, bahwa bunda katakan “belum” membuahkan hasil yang diharapkan. Bunda tidak menggunakan frase kata “tidak” membuahkan hasil seperti yang diharapkan, tapi frase kata “belum”. Maksudnya apa? Mengapa bunda menggunakan frase kata “belum”? Tiada lain bunda ingin menyampaikan pesan positif kepada ananda bahwa untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan itu hanya masalah waktu. Bukan masalah ketidak mampuan sang ikhwan apalagi kemustahilan, karena dia telah memiliki modal dasar yang paling fundamental dan berharga dalam mencari maisyah yakni mental survive dan pantang menyerah. Akan sangat berbeda ceritanya jika yang datang kepada ananda adalah seorang ikhwan yang telah memiliki kemapanan materi dan rupanya kemapanan tersebut diperolehnya karena bantuan orang tua mungkin atau warisan, sehingga belum bisa disebut sebagai ikhwan yang memiliki mental survive dan pantang menyerah sebab belum teruji. Bukankah Allah telah berjanji bahwa dia akan memampukan hamba-Nya yang miskin apabila hamba-Nya tersebut ingin menikah? (QS An-Nur : 32) Dan tidaklah janji tersebut akan ditunaikan oleh Allah kecuali bagi hamba-hamba-Nya yang mau berikhtiar untuk mewujudkannya. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d : 11). Lalu siapakah hamba-Nya yang pantas untuk mendapatkan janji mampu dari-Nya? Tentu saja hanya bagi hamba-hamba-Nya yang mempunyai mental survive dan pantang menyerah, sebab hal tersebut merupakan representasi ikhtiar yang sesungguhnya.”

…CARA MENILAINYA IALAH DENGAN MELIHAT KEGIGIHANNYA DALAM BEKERJA. MENGETAHUI USAHA-USAHA APA SAJA YANG TELAH DILAKUKANNYA DALAM MENCARI NAFKAH, MESKIPUN HASIL DARI KEGIGIHAN DAN USAHANYA TERSEBUT BELUM MEMBUAHKAN HASIL SEBAGAIMANA YANG DIHARAPKAN. ITULAH CARA MENILAINYA ANANDA…

…TIADA LAIN BUNDA INGIN MENYAMPAIKAN PESAN POSITIF KEPADA ANANDA BAHWA UNTUK MENDAPATKAN HASIL SEPERTI YANG DIHARAPKAN ITU HANYA MASALAH WAKTU. BUKAN MASALAH KETIDAK MAMPUAN SANG IKHWAN APALAGI KEMUSTAHILAN, KARENA DIA TELAH MEMILIKI MODAL DASAR YANG PALING FUNDAMENTAL DAN BERHARGA DALAM MENCARI MAISYAH YAKNI MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH…

…LALU SIAPAKAH HAMBA-NYA YANG PANTAS UNTUK MENDAPATKAN JANJI MAMPU DARI-NYA? TENTU SAJA HANYA BAGI HAMBA-HAMBA-NYA YANG MEMPUNYAI MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH, SEBAB HAL TERSEBUT MERUPAKAN REPRESENTASI IKHTIAR YANG SESUNGGUHNYA…

“Subhanallah… betul sekali bunda. Alya setuju 100 % hee”

“Nah sekarang bunda mau nanya nih, memang idealnya sih ikhwan yang datang mengkhitbah ialah ikhwan yang telah memiliki kemapanan materi juga mental survive dan pantang menyerah, tapi itu terlalu ideal. Coba untuk lebih realistis saja, seandainya ananda disuruh memilih, manakah yang akan ananda pilih, ikhwan yang belum mempunyai kemapanan materi tapi mempunyai kesiapan bermateri atau ikhwan yang sudah mapan secara materi tapi belum teruji apakah dia memiliki mental survive dan pantang menyerah? Hayo pilih yang mana?” Ibunda coba menggoda Alya.

“Insya Allah Alya akan memilih ikhwan yang mempunyai kesiapan bermateri meskipun dia belum mapan secara materi” Jawab Alya mantap. Serta merta senyum kebanggan menghiasi wajah sang bunda akan kecerdasan putrinya.

“Alya.. ketahuilah, bahwa membangun kemapanan dalam berumah tangga secara bersama-sama itu jauh lebih indah. Sebab masing-masing pasangan mempunyai andil yang sama besar untuk mewujudkan kemapanan tersebut. Masing-masing pasangan tidak akan berani mengklaim bahwa merekalah yang secara pribadi mempunyai jasa paling besar dalam membangun kemapanan tersebut, sehingga akan menutup pintu egoisme dan arogansi dari salah satu pihak. Menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati. Masing-masing akan merasa saling membutuhkan. Bila sudah begitu insya Allah akan melahirkan ketenangan (sakinah) dalam kehidupan berumah tangga dan melanggengkan rasa cinta dan kasih (mawadah wa rahmah) diantara mereka. Bukankah disamping berperan sebagai makmum, istri sholehah juga dituntut untuk dapat berperan sebagai partner yang kompak dengan suami. Jadilah mereka sebagai tim kehidupan yang solid dan insya Allah akan mampu menghasilkan produktivitas kebaikan yang luar biasa, tidak saja bagi kehidupan keluarga mereka tapi juga masyarakat pada umumnya”

…KETAHUILAH, BAHWA MEMBANGUN KEMAPANAN DALAM BERUMAH TANGGA SECARA BERSAMA-SAMA ITU JAUH LEBIH INDAH. SEBAB MASING-MASING PASANGAN MEMPUNYAI ANDIL YANG SAMA BESAR UNTUK MEWUJUDKAN KEMAPANAN TERSEBUT…

“Lagi-lagi Alya setuju bunda. Kali ini setuju 1000 % hee” Alya mengekspresikan mimik manjanya.

“Ngomong-ngomong mengenai kemapanan materi, ada satu hal lagi yang ingin bunda sampaikan kepada ananda. Ketahuilah bahwa secara psikologis antara pria dan wanita memiliki perbedaan kecendrungan menilai cinta sejati yang dicarinya. Jika pria biasanya menilai cinta sejatinya pada seorang wanita cukup dengan apa yang ada pada diri wanita tersebut. Mereka tidak terlalu memusingkan hal-hal yang ada pada sekitar wanita tersebut. Apakah itu terkait dengan latar belakang sang wanita, keturunannya atau status sosialnya. Mungkin hal-hal tersebut tetap menjadi pertimbangan bagi sang pria namun bukan prioritas utama. Cukuplah pria melihat kelebihan atau kebaikan yang ada pada wanita tersebut. Mungkin saja akhlak sang wanita, tingkah lakunya atau mungkin juga fisiknya. Berbeda dengan pria, kalau wanita dalam menilai cinta sejatinya kepada seorang pria ialah dengan melihat rasa aman yang mampu diberikan oleh sang pria pada dirinya. Rasa amanlah yang menjadi tolak ukur cinta sejati wanita, namun sayangnya pada masa sekarang ini kebanyakan wanita salah dalam menginterpretasikan kebutuhan psikologis akan rasa aman pada diri mereka. Mereka menginterpretasikan kebutuhan psikologis akan rasa aman terhadap masa depan mereka dengan harta. Mereka berasumsi bahwa hartalah yang menjadi sarana ampuh untuk menjamin keamanan akan masa depan mereka, sehingga tidak heran pada masa sekarang banyak wanita yang ingin menikah dengan pria mapan secara materi sekalipun berumur dan belum jelas kebaikan akhlaknya. Bahkan menikah dengan suami orang secara siri dan rela untuk dijadikan simpanan. Na’udzubillahi min dzalik. Sungguh amat disesalkan pola pikir seperti itu. Padahal Allah sudah memperingatkan akan kesalahan pola pikir tersebut : dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah (QS Al-Humazah : 3-4)”

…JIKA PRIA BIASANYA MENILAI CINTA SEJATINYA PADA SEORANG WANITA CUKUP DENGAN APA YANG ADA PADA DIRI WANITA TERSEBUT…

…KALAU WANITA DALAM MENILAI CINTA SEJATINYA KEPADA SEORANG PRIA IALAH DENGAN MELIHAT RASA AMAN YANG MAMPU DIBERIKAN OLEH SANG PRIA PADA DIRINYA…

…MEREKA MENGINTERPRETASIKAN KEBUTUHAN PSIKOLOGIS AKAN RASA AMAN TERHADAP MASA DEPAN MEREKA DENGAN HARTA…

“Na’udzubillahi min dzalik” Alya ikut berta’awudz.

“Dari sinilah kita dapat melihat perbedaan yang sangat signifikan mengenai kebutuhan antara pria dan wanita. Jika kebanyakan pria lebih membutuhkan wanita, sementara kebanyakan wanita lebih membutuhkan harta, sehingga bisa dikatakan bahwa godaan terbesar bagi kaum adam ialah wanita, sedangkan godaan terbesar bagi kaum hawa ialah harta. Mau tahu buktinya ananda? Lihatlah secara faktual bahwa jumlah janda itu lebih banyak dari pada duda. Kebanyakan pria apabila bercerai dengan istrinya, apakah karena ditinggal mati atau talaq, kemungkinan besar akan menikah lagi. Berbeda dengan kebanyakan wanita kemungkinan menikah lagi sangat kecil. Kalaupun menikah lagi biasanya yang menjadi alasan ialah agar ada pria yang mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya. Lagi-lagi seputar harta. Nah, maka dari itu wahai ananda berhati-hatilah dengan kesalahan pola pikir tersebut”

…GODAAN TERBESAR BAGI KAUM ADAM IALAH WANITA, SEDANGKAN GODAAN TERBESAR BAGI KAUM HAWA IALAH HARTA…

“Insya Allah bunda”

“Sebenarnya rasa aman yang paling hakiki dibutuhkan oleh seorang wanita ialah seorang pria yang mampu memberikan rasa aman bagi dirinya atas keburukan-keburukan yang mungkin menimpanya baik di dunia dan di akhirat, dan tidaklah keburukan tersebut bisa dihindari kecuali bagi hamba-hamba Allah yang menjadikan Allah SWT sebagai pelindung dan penolong mereka, sedang perlindungan dan pertolongan tersebut tidaklah akan turun kecuali bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Lelaki bertaqwa-lah yang sebenarnya dibutuhkan oleh wanita sebagai suami sekaligus qawwam mereka. Bukankah Rasulullah SAW sudah memberikan petunjuk untuk menikahi seseorang dengan menjadikan agama sebagai faktor pertama dan utama untuk menikah. Simak juga apa yang dikatakan oleh cucu Nabi, Husain bin Ali. Dia pernah berkata bahwa dengan menikahi lelaki bertaqwa maka apabila lelaki tersebut mencintai istrinya maka dia akan menghormati dan apabila dia tidak mencintai istrinya, maka dia tidak akan mendzalimi. Itulah kira-kira yang perlu ananda ketahui”

…SEBENARNYA RASA AMAN YANG PALING HAKIKI DIBUTUHKAN OLEH SEORANG WANITA IALAH SEORANG PRIA YANG MAMPU MEMBERIKAN RASA AMAN BAGI DIRINYA ATAS KEBURUKAN-KEBURUKAN YANG MUNGKIN MENIMPANYA BAIK DI DUNIA DAN DI AKHIRAT…

“Subhanallah bunda banyak sekali ilmu yang ananda dapatkan pada malam yang berkah ini”

“Ingatlah wahai ananda bahwa niat yang benar, ilmu yang memadai dan kesiapan mental untuk mengamalkan ilmu serta kesiapan bermateri bagi ikhwan bersifat kumulatif. Harus dipenuhi semuanya terlebih dahulu. Tidak boleh kurang satu pun jua karena hal-hal tersebut merupakan syarat-syarat yang paling minimal untuk dimiliki sebelum memutuskan siap menikah. Sebab hal-hal tersebut insya Allah mampu menjadi pengaman pada fase pra-nikah menuju pernikahan yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Amin. Hmm… ada satu hal nih yang ingin bunda tanyakan lagi, kira-kira kalo ada seorang ikhwan yang datang mengkhitbah ananda namun masih memiliki kekurangan atas syarat-syarat kesiapan menikah yang bunda sebutkan tadi, kira-kira sikap ananda bakalan gimana?”

…INGATLAH WAHAI ANANDA BAHWA NIAT YANG BENAR, ILMU YANG MEMADAI DAN KESIAPAN MENTAL UNTUK MENGAMALKAN ILMU SERTA KESIAPAN BERMATERI BAGI IKHWAN BERSIFAT KUMULATIF. HARUS DIPENUHI SEMUANYA TERLEBIH DAHULU. TIDAK BOLEH KURANG SATU PUN JUA…

Alya ragu-ragu menjawabnya. Dia masih memikirkan jawaban yang paling tepat, namun belum sempat Alya menjawab, langsung saja sang bunda menjawabnya sendiri.

“Sebaiknya ditolak saja khitbahnya wahai ananda karena hal tersebut bukanlah sebuah kesiapan melainkan kenekatan” Bunda-pun tersenyum pada Alya.

Sebuah senyuman tanda mengerti dan juga menggelitik dibalas Alya.

“Waduh baru kali ini bunda mendiskusikan masalah munakahah sebanyak ini dengan Alya” Alya bersemangat.

“Karena bunda tahu inilah saatnya ananda”

“Kalo begitu sekalian aja ya bunda untuk mendiskusikan mengenai pengaman pasca-nikah”

“Putri bunda semangat sekali”
“Iya nih…hee”
“Malam terasa semakin akrab ya ananda dan tampaknya abi juga masih lama pulang dari masjidnya. Baiklah akan bunda bahas sekalian aja mengenai pengaman pasca-pernikahan.”
Alya tampak antusias.
“Bicara mengenai pengaman pasca-pernikahan sebenarnya sama saja kita tengah membicarakan hal-hal yang menjadi pondasi utama pada sebuah pernikahan islami, dan hal yang menjadi pondasi pertama ialah…”

Bersambung

Rabu, 01 Desember 2010

Tasawuf Cinta Sang Putri ( Lanjutan )

 “Tuan puteri ketahuilah, bahwasanya untuk saat ini kita sama-sama tidak dapat mengetahui apakah Allah SWT meng-ijabahi doa saya atau tidak, namun hal itu bisa kita ketahui nanti, tidak saat ini dan tidak disini”

“Lalu kapan dan dimana jawaban Allah SWT tersebut akan dapat kita peroleh?”

“Jawaban tersebut hanya bisa kita peroleh dengan syarat tuan puteri harus ikut saya kembali ke istana, disanalah kelak jawabannya dapat kita ketahui”

“Terangkan kepadaku, kenapa begitu..”

“Tuan puteri, untuk mengetahui apakah Allah SWT meng-ijabahi doa saya atau menolaknya dapat kita ketahui dari lisan ayahanda tuan puteri yakni Sultan Fawwaz Al-Maghriby”

“Aku belum mengerti maksud ucapanmu”

“Telah menjadi sunatullah bahwa Allah SWT dalam melimpahkan kewenangannya untuk memberi ridho agar hamba-hamba wanita-Nya dinikahi oleh seorang pria adalah melalui ridho orang tua wanita tersebut. Bukankah Rasulullah bersabda, ridho dan murka Allah SWT tergantung pada ridho dan murka orang tua? Selama tidak ada alasan syar’i yang menghalangi dan tidak ada perintah Allah SWT melalui Al-Qur’an dan As-sunah yang dilangkahi, maka ridho orang tua merupakan jawaban atas ridho Allah SWT. Untuk itu marilah tuan puteri, pulanglah bersama saya ke istana untuk menemui sultan, demi mengetahui jawaban Allah SWT atas doa saya”

...SELAMA TIDAK ADA ALASAN SYAR’I YANG MENGHALANGI DAN TIDAK ADA PERINTAH ALLAH SWT MELALUI AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH YANG DILANGKAHI, MAKA RIDHO ORANG TUA MERUPAKAN JAWABAN ATAS RIDHO ALLAH SWT...

Masya Allah, Puteri Nayla membatin. Kali ini dia betul-betul terperangkap dengan pernyataannya sendiri. Mau tak mau dia harus menentukan sikap apakah akan ikut Aufik kembali ke istana atau tetap bertahan di tempatnya semula. Terpikir olehnya satu alasan yang dapat dijadikan senjata pamungkas guna menolak ajakan Aufik.

“Kurasa sulit bagiku untuk meninggalkan tempat ini, sebab aku terlalu nyaman untuk tetap berkhalwat dengan Allah SWT”

“Mengapa tuan puteri ingin selalu berkhalwat dengan Allah SWT?”

“Karena aku mencintai-Nya” Puteri Nayla berujar tegas.

“Buktikan kepada saya bahwa tuan puteri memang mencintai Allah?”

“Jika harus membuktikan rasa cintaku melalui amalan, maka hal tersebut akan sulit, sebab engkau belum pernah menyaksikan aku beramal dan tak cukup waktu bagimu untuk menunggu disini guna melihat ku beramal. Sebaiknya aku bacakan saja satu bait doa yang selalu aku panjatkan kepada Allah SWT, semoga dari doa tersebut engkau dapat mengerti seberapa besar rasa cintaku kepada-Nya”

“Silahkan tuan puteri” Aufik menanti Puteri Nayla membacakan bait doanya.

“Aku selalu berdoa kepada Allah seperti ini, Ya Allah jika memang hamba beribadah kepada-Mu karena takut akan azab neraka-Mu, maka benamkanlah hamba ke dalamnya dan apabila hamba beribadah kepada-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkanlah hamba tuk memasukinya, sebab hamba beribadah kepada-Mu hanya karena hamba mencintai-Mu, itu saja”

“Tuan puteri, kali ini saya akan mengutarakan pandangan saya secara lebih mendalam. Pertama mengenai keinginan tuan puteri untuk senantiasa berkhalwat dengan Allah SWT, saya mendukung hal itu dan saya hargai, namun satu hal yang perlu diluruskan. Tidaklah menjadi satu-satunya sarana berkhalwat berdua Allah dengan melakukan uzlah (mengasingkan diri), kegiatan tersebut tetap dapat kita lakukan meskipun kita tengah berkumpul bersama keluarga. Bukanlah berkhalwat dengan Allah SWT berarti kita sedang berduaan dengan zat-Nya, melainkan dengan pengetahuan-Nya. Allah berfirman, janganlah kalian berdua takut, sungguh Aku bersama kalian berdua mendengar dan melihat (QS. Thaha:46). Itulah definisi sesungguhnya berkhalwat dengan Allah SWT. Kembangkan terus sifat ihsan pada diri kita yakni dengan selalu merasa bahwa Allah senantiasa memperhatikan dan mengawasi kita. Sesungguhnya Allah atas kalian selalu mengawasi (QS. An-Nisa:1). Apabila sifat tersebut telah terpatri didalam benak kita dan dirasakan dalam keseharian kita, insya Allah kapanpun dan dimanapun kita berada sesungguhnya kita tengah berkhalwat dengan Allah. Tidak harus dengan menyendiri dan suasana sunyi” Logika Aufik menjungkir balikkan nalar Puteri Nayla, dan dia merasa bisa menerima pandangan tersebut.

...BUKANLAH BERKHALWAT DENGAN ALLAH SWT BERARTI KITA SEDANG BERDUAAN DENGAN ZAT-NYA, MELAINKAN DENGAN PENGETAHUAN-NYA...

...APABILA SIFAT TERSEBUT TELAH TERPATRI DIDALAM BENAK KITA DAN DIRASAKAN DALAM KESEHARIAN KITA, INSYA ALLAH KAPANPUN DAN DIMANAPUN KITA BERADA SESUNGGUHNYA KITA TENGAH BERKHALWAT DENGAN ALLAH...

“Yang kedua, untuk doa yang tuan puteri panjatkan, menurut saya sebaiknya tuan puteri secepatnya mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya”

“Mengapa harus begitu?”

“Dari doa yang tuan puteri panjatkan menunjukan bahwa tuan puteri telah berlaku sombong dihadapan Allah SWT”

“Na’udzubillahimindzalik. Apa maksudmu?”

“Tuan puteri sesungguhnya Allah telah menciptakan kita dengan menitipkan akal dan nafsu kepada kita. Itulah yang membuat kita sempurna, dan beda dari malaikat dan hewan. Jika malaikat hanya dititipkan akal tanpa nafsu, sementara hewan dititipkan nafsu tanpa akal. Sudah menjadi sunah-Nya bagi kita untuk memiliki kecendrungan akan kenikmatan duniawi maupun ukhrawi, hal itu tidak dilarang oleh-Nya, hanya saja bentuk kecintaan tersebut harus sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya. Lihat bagaimana Allah menghubungkan perintah doa dengan kesombongan diri manusia melalui firman-Nya, berdoalah kepadaku niscaya kan Aku kabulkan. Barang siapa yang sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina (QS. Al-Mu’min:60) pada ayat lainnya Allah berfirman, dan serulah Dia oleh kalian dalam keadaan takut (dari neraka) dan berharap (kepada surga) (QS. Al-a’raaf:56) bahkan manusia semulia Rasulullah SAW sendiri mengajarkan pada kita doa berikut ini, saya memohon surga kepada Allah dan berlindung dengan-Nya dari neraka. Dan beliau meminta kepada kita untuk mendoakan beliau melalui doa selepas adzan, dimana dari doa kita tersebut beliau tetap berharap akan diberikan wasilah atau satu tempat di surga yang tidak diberikan kepada mahluk selain beliau. Lihatlah tuan puteri, Rasulullah SAW merupakan mahluk yang paling taat dan mengenal Allah, namun demikian beliau tetap beribadah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh rasa harap. Tetap mencintai manusia dan berkeluarga. Sangat amat sombong kita, tatkala Allah menciptakan segala kenikmatan dunia dan surga, lalu atas kenikmatan tersebut kita palingkan diri untuk menjauhi. Allah menciptakan semua itu bukan tanpa sebab. Allah tahu kecenderungan kita, sebab dia sendiri yang menciptakan nafsu bagi kita, namun agar nafsu tersebut terarah dalam penyalurannya, untuk itu Dia ciptakan juga akal bagi kita. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefujuran dan ketakwaan (QS. Asy-syams:8).

...SUDAH MENJADI SUNAH-NYA BAGI KITA UNTUK MEMILIKI KECENDRUNGAN AKAN KENIKMATAN DUNIAWI MAUPUN UKHRAWI, HAL ITU TIDAK DILARANG OLEH-NYA, HANYA SAJA BENTUK KECINTAAN TERSEBUT HARUS SESUAI DENGAN SYARIAT YANG TELAH DITETAPKAN-NYA...

...SANGAT AMAT SOMBONG KITA, TATKALA ALLAH MENCIPTAKAN SEGALA KENIKMATAN DUNIA DAN SURGA, LALU ATAS KENIKMATAN TERSEBUT KITA PALINGKAN DIRI UNTUK MENJAUHI...

Puteri Nayla tak mampu berkata-kata lagi. Diam seribu bahasa.

“Tuan puteri ketahuilah, manusia yang paling besar rasa cintanya kepada Allah SWT ialah Rasulullah SAW, namun beliau juga paling tahu cara yang benar dalam mencintai Allah SWT. Sesungguhnya cinta itu adalah perpaduan antara kecendrungan, harapan, kecemasan, ketakutan dan kerelaan untuk berkorban. Harap jangan dikaitkan kesederhanaan yang tuan puteri jalani saat ini merupakan wujud daripada sikap zuhud. Bukan begitu tuan puteri. Ketahuilah bahwa saat kita berbicara mengenai kezuhudan, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara tentang apa yang ada didalam genggaman kita, tapi kita sedang berbicara tentang apa yang ada didalam hati kita. Bisa saja seseorang memiliki harta yang berlimpah, namun kesemua hal tersebut sama sekali tidak membuat dia lebih mencintai dunia ini ketimbang akhirat. Tidak juga mampu melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT. Bukti contoh lihatlah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Betapa besar kerajaan yang dimilikinya dan betapa banyak harta yang berada di genggamannya, namun tetap saja beliau mampu mencapai derajat sebagai seorang rasul Allah. Allah telah menciptakan semuanya secara berpasangan, Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (QS. Yasin:36). Sekarang saya bertanya kepada tuan puteri, sebagai wanita siapakah yang layak menjadi pasangan tuan puteri, apakah Allah? Huu.. itu merupakan wujud kesombongan lainnya. Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri (QS. An-Nahl:72). Marilah tuan puteri ikut bersama saya untuk kembali menemui segenap penghuni istana, terutama orang tua tuan puteri”

...SESUNGGUHNYA CINTA ITU ADALAH PERPADUAN ANTARA KECENDRUNGAN, HARAPAN, KECEMASAN, KETAKUTAN DAN KERELAAN UNTUK BERKORBAN...

...KETAHUILAH BAHWA SAAT KITA BERBICARA MENGENAI KEZUHUDAN, SESUNGGUHNYA KITA TIDAK SEDANG BERBICARA TENTANG APA YANG ADA DIDALAM GENGGAMAN KITA, TAPI KITA SEDANG BERBICARA TENTANG APA YANG ADA DIDALAM HATI KITA...

Aufik berusaha untuk membujuk tuan puteri kembali, namun tanpa berkata sepatah katapun, Puteri Nayla langsung saja berkemas-kemas untuk pergi, siap meninggalkan gubuk reotnya menuju kembali ke istana.

“Marilah wahai pemuda, kita bergegas kembali ke istana. Setelah mendengar pandanganmu aku menjadi sadar atas khilafku dan semoga Allah mau memaafkan kesalahanku. Saat ini aku menjadi tidak sabar untuk menemui ayah bunda. Bujukanmu sungguh ampuh” Puteri Nayla tulus memuji Aufik.

“Terima kasih tuan puteri”

***

Akhirnya suasana ceria menyelubungi istana dan penghuninya. Sesampainya Aufik dan Puteri Nayla di hadapan Sultan Fawwaz, tanpa menunggu lama lagi, Sultan Fawwaz bermaksud untuk menepati janjinya menikahkan puterinya dengan pemuda yang mampu membawa kembali puterinya ke istana, namun tiba-tiba diluar dugaan Aufik bermaksud mengundurkan diri dari proses khitbahnya.

“Maaf sultan, tiada maksud saya untuk meremehkan kebaikan sultan, tapi saya sudah memutuskan untuk mundur dari proses khitbah ini”

Para penghuni istana yang kala itu hadir di balai istana berbisik-bisik. Ada yang keheranan, bingung, mengatakan bahwa Aufik pemuda yang bodoh karena melepaskan kesempatan untuk bisa menikahi puteri sultan, bahkan ada yang mengatakan Aufik telah lancang.

Sultan Fawwaz tidak ingin menanggapi bisik-bisik tersebut. Dia berprasangka baik dengan Aufik. Tidak mungkin pikirnya Aufik mengambil keputusan tersebut tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
“Apa gerangan yang membuatmu mengambil keputusan tersebut wahai Aufik?”

“Sejujurnya pada saat pertama kali mendatangi Puteri Nayla, saya hanya berniat menolong puteri agar kembali ke istana. Tidak ada sama sekali niat untuk menikahi, namun setelah bertemu dengannya, melihat rupanya, keanggunan dan kecerdesannya, niat saya jadi berubah, keikhlasan saya meluntur, dan saya ingin menikahi tuan puteri. Saya merasa malu kepada Allah akan hal ini, beruntung Allah tidak menutup pintu rahmat-Nya sehingga dengan pertolongan-Nya sama mampu membawa Puteri Nayla kembali. Sebagai seorang muslim saya hanya berusaha untuk menjadi orang yang tahu diri, sebab kata Rasulullah SAW, jika kamu tidak memiliki malu lagi maka berbuatlah sekehendakmu. Karena saya yakin bahwa pernikahan ini terjadi bukan atas kerelaan tuan puteri, untuk itu saya mundur. Saya tidak ingin tuan puteri menikah dengan saya hanya karena dijodohkan oleh sultan, saya masih memiliki harga diri untuk tidak menikahi wanita yang tak ingin dinikahi oleh saya, oleh karena itu saya berharap tuan puteri bisa menemukan pasangan yang cocok, yang kepadanya tuan puteri tertarik, dan berbekal restu orang tua insya Allah pernikahan mereka barokah. Itulah keterangan dari saya wahai sultan dan dikarenakan tugas saya telah selesai, untuk itu saya pamitmu. Ada urusan agama lain yang ingin saya selesaikan diluar sana. Assalamu’alaikum..”

...SAYA MASIH MEMILIKI HARGA DIRI UNTUK TIDAK MENIKAHI WANITA YANG TAK INGIN DINIKAHI OLEH SAYA...

...SAYA BERHARAP TUAN PUTERI BISA MENEMUKAN PASANGAN YANG COCOK, YANG KEPADANYA TUAN PUTERI TERTARIK, DAN BERBEKAL RESTU ORANG TUA INSYA ALLAH PERNIKAHAN MEREKA BAROKAH...

Aufik ingin meninggalkan balai istana setelah pamit kepada sultan dan meminta maaf kepada semua, termasuk pada Puteri Nayla. Baru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah suara wanita menghentikan langkah Aufik.

“Tunggu wahai Aufik” Aufik kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara tersebut berasal. Rupanya suara itu milik puteri Nayla.

“Ada apa wahai puteri?”

“Aku ingin bertanya padamu wahai Aufik, sudikah engkau menarik ucapanmu tadi untuk mengundurkan diri dan mengajukan diri kembali seandainya wanita yang bernama Nayla Fawwaz ini menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh mu?”

Suasana balai malah menjadi riuh, kemudian terhentikan oleh jawaban lugas dari Aufik. Dengan tenang dan mantap Aufik berujar,

“Saya bersedia”

Serta merta seluruh penghuni istana mengucapkan hamdalah. Mereka bahagia bukan saja karena telah kembalinya Puteri Nayla, melainkan juga atas pernikahan sepasang sejoli yang sama-sama mereka cintai.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum 21)

Tasawuf Cinta Sang Putri

Oleh : Erjie Al-Batamiy

Sultan Fawwaz Al-Maghriby terlihat cemas. Berbaur perasaan bingung dan juga khawatir, mengenang nasib puterinya. Sudah sebulan sang puteri tidak pulang ke istana. Ayah dan bunda sudah tak sabar ingin bersua.

Kira-kira beberapa bulan yang lalu Puteri Nayla Fawwaz mengatakan kepada sultan dan permaisuri bahwa dia ingin berubah untuk menjadi lebih baik lagi, dengan bertaqarrub kepada Allah SWT. Puteri Nayla ber’azzam untuk belajar tentang agama Islam dengan benar dan berusaha untuk mereguk cinta sejatinya yakni Mahabatullah (cinta kepada Allah ‘azza wa jalla).

Sebulan yang lalu Puteri Nayla mengklaim bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya, dan atas cinta tersebut dia merasa berkewajiban untuk berkorban demi cinta-Nya, agar Allah yang Maha Lembut dan Maha Halus sudi menerima Puteri Nayla sebagai kekasih-Nya. Untuk itu dia pergi meninggalkan istana, meninggalkan tempat dimana dia lahir dan bertahun-tahun dibesarkan disana. Meninggalkan segala kenikmatan istana yang pernah dicicipinya. Puteri Nayla berujar kepada Sultan Fawwaz,

“Wahai ayahanda sungguh kecintaan ananda kepada Allah SWT telah menuntun ananda untuk pergi meninggalkan istana ini, ananda ingin zuhud terhadap dunia ini dan mengharapkan hanya cinta-Nya. Jika ayahanda memang masih mencintai ananda, marilah ikut bersama ananda, kita tinggalkan istana ini untuk berbaur menjadi rakyat jelata”

Pilihan yang berat menurut Sultan Fawwaz. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan istana dan seluruh urusannya. Urusan umat yang dibebankan kepadanya sebagai amir negeri. Sultan Fawwaz mencoba memberikan pengertian kepada puterinya, namun Puteri Nayla tetap dengan tekad semula, yakni pergi meninggalkan istana.

Beberapa hari setelah kepergian puteri, Sultan Fawwaz mengutus beberapa prajurit untuk mencari tahu kabar Puteri Nayla dan betapa pilu hati sang sultan mendengar berita yang dibawa prajurit sepulang dari tempat Puteri Nawwaz bermukim. Ternyata Puteri Nayla tinggal sebatang kara dipinggiran hutan dekat perbatasan negeri. Di gubuk reot yang menjadi tempat tinggal puteri, hanya diterangi oleh sebatang lilin saja. Penampilannya kumal hampir tidak bisa dikenali. Tiap hari dia hanya memakan sekerat roti. Untuk membeli roti dan lilin setiap harinya Puteri Nayla mencari kayu kering dihutan untuk dijadikan kayu bakar agar bisa dijual di pasar, dan beruntungnya kerabat istana karena setiap pergi ke pasar untuk menjual kayu dan membeli roti dan lilin, Puteri Nayla selalu menggunakan hijab seperti niqab sehingga orang tidak ada yang mengenali bahwa orang tersebut adalah puteri amir mereka. Tak terbayangkan jika orang-orang pada tahu bahwa Puteri Nayla telah berubah, tidak seperti yang mereka kenal dahulu. Hendak diletakkan dimana muka para kerabat istana terutama Sultan Fawwaz karena malu.

Ketika ditanya oleh Sultan Fawwaz perihal perubahan yang terjadi padanya kini, Puteri Nayla menjawab,

“Ayahanda apalah artinya ananda melahap berbagai makanan lezat nan mengenyangkan, namun jiwa ananda lapar dan dahaga. Cukuplah Allah bagi ananda. Berkhalwat dengan-Nya membuat jiwa ananda kenyang dan tak ada santapan yang lebih lezat selain selalu menyibukkan diri dengan berdzikir menyebut nama-Nya, hingga memalingkan diri ananda dari wajah dunia. Tak perlu ayahanda menjemput, biarkan ananda untuk tetap disini”

Sultan Fawwaz kehabisan akal untuk meminta puteri kesayangannya kembali ke istana, lalu sambil bersandar pada singgasananya, Sultan Fawwaz coba berkonsultasi dengan para penasehatnya. Berunding membahas langkah apa yang sekiranya bisa diambil untuk membuat Puteri Nayla kembali seperti sedia kala.

Perdana Menteri Tariq Barnini memberikan saran kepada sultan,

“Ada baiknya sultan mengadakan sayembara dan mengumumkan ke seluruh penjuru negeri. Umumkan bahwa siapa saja yang mampu membujuk Puteri Nayla kembali ke istana maka akan diberi hadiah”

“Tapi wahai perdana menteri, dengan begitu akan membuat semua orang tahu keadaan Puteri Nayla saat ini mau diletakkan dimana mukaku, bisa jadi seluruh orang di negeri ini berbondong-bondong mendatangi Puteri Nayla untuk membujuknya dan aku khawatir dia akan syok akan hal tersebut dan marah padaku. Kurasa itu tidak efektif”

“Sultanku, ketahuilah bahwa Puteri Nayla bukan wanita sembarangan, dia wanita yang cerdas. Tentu saja kesempatan sayembara ini tidak bisa kita berikan ke sembarang orang. Cukuplah orang yang memiliki kecukupan ilmu dan pemahaman agama yang benar, yang mampu membujuk Puteri Nayla untuk kembali. Hamba akan bermusyawarah dengan para imam besar di negeri ini, akan hamba tanyakan kepada mereka apakah mereka memiliki murid yang bisa menolong untuk membawa Puteri kembali”

“Baiklah aku setuju dengan pendapatmu. Barang siapa yang mampu membawa kembali puteriku maka sebagai imbalannya akan kunikahkan dia dengan putriku. Sekarang laksanakanlah, kumpulkan semua imam besar untuk membahas hal ini”

“Perintahmu wahai sultan” segera Perdana Menteri Tariq Barnini melaksanakan titah sang sultan.

***

Selama dua hari proses perundingan bersama para imam besar dilakukan. Hasilnya terseleksi 3 kandidat pemuda, yang pertama Maye Asy-Syukri yang merupakan pemuda tampan. Berasal dari kalangan aristrokrat dan kandidat mufti kota. Kedua Rowar Al-Kindi, seorang pemuda gagah. Masih tergolong bangsawan dan dipersiapkan untuk menjadi gubernur diwilayah taklukan kerajaan Sultan Fawwaz Al-Maghriby. Terakhir Aufik Ibnul-Labrie yang merupakan pemuda “biasa” dan “sederhana” sebab tiada embel-embel kehormatan duniawi yang melekat padanya, namun sifat fathonah (cerdas) dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Putra penyair besar sekaligus mu’adzin kondang Jamas Labrie. Jamas Labrie sendiri merupakan sahabat dekat perdana menteri Tariq Barnini.

...PEMUDA “BIASA” DAN “SEDERHANA” SEBAB TIADA EMBEL-EMBEL KEHORMATAN DUNIAWI YANG MELEKAT PADANYA, NAMUN SIFAT FATHONAH (CERDAS) DIKARUNIAKAN ALLAH SWT KEPADANYA...

Singkat cerita pemuda pertama dan kedua yakni Maye Asy-Syukri dan Rowar Al-Kindi menemui kegagalan. Mereka gagal membujuk Puteri Nayla untuk kembali. Perang dalil telah mereka lakukan dengan Puteri Nayla, namun tetap tidak mampu meyakinkan Puteri Nayla. Mereka tak habis pikir dengan tingkah akal sang puteri.

Tinggal Aufik Ibnul-Labrie harapan terakhir sang sultan. Sultan dan segenap penghuni istana menumpukan harapan kepada Aufik Ibnul-Labrie. Tugas berat bagi Aufik. Aufik berjanji akan berusaha semampunya untuk membawa Puteri Nayla kembali.

Sebelum menjalankan niatnya untuk pergi ke tempat sang puteri dan membujuknya kembali, Aufik ingin mempersiapkan diri terlebih dahulu. Dia ingin mempersiapkan bahan perdebatan nanti. Demi hal tersebut, Aufik akan mendatangi Maye dan Rowar yang telah lebih dulu gagal, untuk diminta keterangan tentang hal apa saja yang telah mereka perdebatkan dengan Puteri Nayla. Sesampainya Aufik di tempat mereka berdua, ternyata Maye dan Rowar menolak untuk memberi keterangan tersebut. Mereka berasumsi hal itu tidak adil, karena baik Maye maupun Rowar sebelum mendatangi Puteri Nayla, mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan diperdebatkan dengan sang puteri, dan apabila Aufik telah memiliki keterangan tersebut sebelumnya, maka hal ini tidak adil bagi mereka karena Aufik bisa melakukan persiapan lebih daripada mereka. Aufik maklum dengan keberatan Maye dan Rowar dan tidak ingin memaksa mereka.

Jadilah Aufik pergi menemui Puteri Nayla tanpa persiapan apapun. Sesungguhnya ada hal yang berbeda antara Aufik, Maye dan Rowar yakni masalah niat. Jika Maye dan Rowar berusaha membujuk Puteri Nayla karena memang tergiur dengan imbalan untuk menikahi Puteri Nayla, berbeda dengan Aufik yang berniat hanya untuk menolong Puteri Nayla dari kesalahan berpikirnya dan juga kerabat istana untuk bersama kembali dengan Puteri Nayla yang sangat mereka cintai. Aufik yakin bahwa segala sesuatu berpangkal dari niat, jika dia memang berniat menolong untuk membujuk Puteri Nayla kembali, insya Allah, Allah SWT akan menyertai dan menolongnya menggapai apa yang dia niatkan.

Sesampainya Aufik diambang perbatasan hutan, dari kejauhan dia melihat gubuk tempat Puteri Nayla berdiam diri. Dengan penuh ketawadhu-an Aufik mengayunkan langkag kakinya, sambil lisannya senantiasa basah akan dzikirullah. Sebelum mendekati gubuk yang dituju, Aufik menyempatkan diri terlebih dahulu menghampiri telaga hutan untuk mengambil air wudhu. Kebetulan wudhunya baru saja batal, dan untuk itu dia bermaksud untuk mengambil wudhu kembali guna mengikuti sunah Rasulullah SAW dalam menjaga wudhu. Aufik merasa risih jika harus berdzikir dalam keadaan tidak suci, untuk itu dia berwudhu.

...DIA BERMAKSUD UNTUK MENGAMBIL WUDHU KEMBALI GUNA MENGIKUTI SUNAH RASULULLAH SAW DALAM MENJAGA WUDHU...

“Assalamu’alaikum” Aufik menebarkan salam ke gubuk sang puteri.

“Wa’alaikum salam” Salam kedamaian dibalas Puteri Nayla. Tuan Puteri mempersilahkan tamu tersebut memasuki gubuk kediamannya.

“Wahai pemuda apakah engkau datang kepadaku atas perintah sultan juga, seperti dua pemuda sebelumnya?”

“Bukan tuan puteri”

“Lalu apa gerangan kedatanganmu?” Puteri Nayla merasa tebakannya salah.

“Saya datang kepada tuan puteri bukan atas perintah seorang sultan, tapi saya datang kepada tuan puteri atas permintaan seorang ayah”

Puteri Nayla memperhatikan jawaban Aufik, hatinya tergugah untuk memberikan rasa peduli yang lebih kepada Aufik. Lebih dari yang telah diberikannya kepada Maye dan Rowar dulu.

“Tuan puteri apa yang menyebabkanmu bertahan disini dan meninggalkan orang-orang yang kau cintai?”

“Aku ingin berkhalwat dengan Allah” Jawab Puteri Nayla singkat.

“Apa yang menyebabkan tuan puteri menolak ajakan kedua pemuda yang mendatangi tuan puteri sebelum saya?”

“Pertama karena sikap mereka”

“Bisa tuan puteri jelaskan kepada saya?” Pinta Aufik.

“Pria pertama datang dengan penuh percaya diri karena samudera ilmu yang dimilikinya begitu luas dan relung lautan pemahamannya begitu dalam, namun sayang dia tidak tahu atau mungkin terlupa bahwa yang bisa membuat aku bersimpati adalah ketakwaan, sedangkan ilmu yang banyak tidak identik dengan ketakwaan yang tinggi, sebab ketakwaan sendiri berarti memiliki ilmu dan pemahaman agama yang disertai dengan keikhlasan beramal juga ketawadhuan, sedang hal terakhir tersebut tidak tampak darinya. Kurasakan pada dirinya keujuban akan ilmu yang dimiliki. Pria kedua begitu gagah dan kharismatik saat mendatangiku, terasa sekali kewibawaan dan jiwa kepemimpinan melekat pada dirinya, namun sayang kesemua hal tersebut ditampakkan olehnya hanya untuk menebarkan pesona pada diriku. Tidak sadarkah dia bahwa kekasihku yakni Allah SWT jauh lebih gagah dan perkasa daripadanya? Sekarang apa yang engkau bawa wahai pemuda, hingga membuatmu mendatangiku saat ini? Ilmu yang banyak? Kegagahan? Keperkasaan? Atau harta yang banyak?”

...ILMU YANG BANYAK TIDAK IDENTIK DENGAN KETAKWAAN YANG TINGGI, SEBAB KETAKWAAN SENDIRI BERARTI MEMILIKI ILMU DAN PEMAHAMAN AGAMA YANG DISERTAI DENGAN KEIKHLASAN BERAMAL JUGA KETAWADHUAN...

...TIDAK SADARKAH DIA BAHWA KEKASIHKU YAKNI ALLAH SWT JAUH LEBIH GAGAH DAN PERKASA DARIPADANYA?...”

Dengan tawadhu Aufik menjawab apa adanya,
“Saya hanya membawa salam dari seorang ayah dan ibu yang sangat merindukan puterinya. Untuk kembali berkumpul seperti sedia kala, dan sepotong hati yang Insya Allah memiliki niat suci menyampaikan pesan rindu dari segenap penghuni istana” Lagi-lagi Puteri Nayla tergugah akan jawaban Aufik. “Alasan lainnya wahai tuan puteri, mengapa engkau menolak kedua pemuda sebelumku?”

“Alasan lainnya ialah saat mereka membujukku untuk kembali seraya mengajukan khitbah pada diriku, aku ajukan pada mereka satu syarat, namun sayang mereka tidak mampu memenuhinya?”

“Apa itu syaratnya wahai tuan puteri?”

“Aku katakan pada mereka, jika mereka menginginkan aku, ketahuilah bahwa aku adalah milik Allah Rabbil’alamin. Untuk itu mintalah izin kepada-Nya, ridho-Nya adalah ridhoku. Mereka mengatakan aku telah kehilangan akal dan mempersyaratkan hal yang mustahil, sehingga mereka merasa tidak sanggup untuk memenuhi permintaanku itu”

Aufik berpikir sejenak. Dia menemukan ide yang cemerlang untuk bisa membawa Puteri Nayla kembali, lalu dia meminta izin kepada Puteri Nayla,
“Tuan puteri, seandainya tidak keberatan, bolehkah saat ini saya meminta persetujuan tuan puteri untuk mengkhitbah secara pribadi dan kemudian saya sampaikan maksud tersebut kepada sultan?”

“Silahkan asalkan engkau bisa memenuhi permintaanku tadi”

“Baiklah tuan puteri” lalu Aufik keluar dari gubuk kediaman Puteri Nayla. Aufik menuju telaga untuk mengambil air wudhu, kemudian mendirikan dua rakaat sholat hajat. Usai sholat dengan penuh kekhusyukan dia menadahkan tangan berdoa kepada Rabb-nya. Tak berapa lama Aufik telah kembali lagi ke gubuk Puteri Nayla.

“Permintaan tuan puteri insya Allah telah saya lakukan”

“Darimana engkau tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengizinkan dirimu untuk mengkhitbah diriku?” Nada Puteri Nayla kurang terima.

“Sekarang saya balik bertanya, darimana tuan puteri tahu bahwa permintaan saya untuk mendapatkan ridho Allah SWT guna mengkhitbah tuan puteri telah ditolak oleh Allah SWT? Buktikan kepada saya bahwa Allahul rahman warrahim tidak mengizinkannya?”

Puteri Nayla terdiam, tak mampu dia menjawabnya. Dia terjebak oleh pertanyaannya sendiri, tapi Aufik yang bijak memiliki solusi.

Bersambung....